Facebook Twitter Google RSS

Berita Terkini

Haba Pidie

Artikel

Kegiatan Fokusgampi

Beasiswa

Senin, 25 Januari 2016

Pengenalan Jurusan Kuliah dan Profesi untuk Siswa SMA atau Sederajat

Jamal Anshari     1/25/2016  No comments

Ajakan untuk berkontribusi

Mari kita berikan informasi seluas-luasnya tentang jurusan kuliah kita masing-masing kepada siswa SMA atau sederajat yang ada di Pidie. Semoga adik-adik kita di daerah akan lebih paham secara luas dan mendalam tentang jurusan kuliah yang beragam serta informasi tentang hubungan jurusan kuliah dengan profesi yang ada di dunia. Mudah-mudahan calon mahasiswa akan menentukan dahulu profesi yang ingin dia jalani nantinya, baru kemudian memilih jurusan kuliah.

  1. Silakan download form nya di bawah ini dan isilah dengan tidak menggunakan bahasa terlalu formal dan mudah dipahami, karena pembaca yang kita targetkan adalah siswa SMA atau sederajat.
  2. Setelah di isi, sesuai dengan format tersebut, silakan ditambahkan apa saja yang ingin ditambahkan pada form tersebut.
Download form jurusan kuliah di sini

Senin, 11 Januari 2016

Jadwal sampai tanggal 13 Februari 2016

Jamal Anshari     1/11/2016  No comments

Senin, 23 November 2015

Segera Daftar! Latihan Dasar Kepemimpinan (LATSARPIM) FOKUSGAMPI Banda Aceh

FOKUSGAMPI Banda Aceh     11/23/2015  No comments

Kruuu Semangaaat.....

Selamat datang pemimpin masa depan Pidie.
Untuk membangkitkan Sinergi Kepemimpinan Pemuda Pidie, kami Forum Komunikasi Generasi Muda Pidie (FOKUSGAMPI) Banda Aceh mengajak seluruh putra-putri terbaik Pidie yang telah menjadi mahasiswa/i  di  Banda Aceh untuk mengikuti "Latihan Dasar Kepemimpinan (LATSARPIM) FOKUSGAMPI Banda Aceh.
INGAT:Pendaftaran     : 18 Nov s/d 4 Des 2015Screening Test :  5 s/d 6 Desember  2015Acara puncak   : 10 s/d 13 Des 2015
Cara pendaftarannya,
Ketik: LATSARPIM_NAMA_ASAL KECAMATAN_NO. HP kirim ke 085277722502 (Fauzan)

Gratiiiiiiss loooh...!!!
Jangan lewatkan kesempatan emas ini, ajak semua teman-teman serta keluarga anda dan jadilah bagian dari FOKUSGAMPI Banda Aceh.

Fasilitas:
Ilmu + Keluarga baru + Pengalaman + Sertifikat.

Info selengkapnya hubungi 085261308772 (Muda Iskandar)

Kamis, 15 Oktober 2015

Pidie, “Cina Hitam” di Aceh

FOKUSGAMPI Banda Aceh     10/15/2015  No comments
Geudeu-Geudeu Pidie [foto:www.atjehcyber.net]
Sejak 2007 dimekarkan menjadi Kab. Pidie Jaya– dulunya lebih dikenal dengan sebutan Pedir. Semasa konflik, daerah ini dikenal sebagai ‘daerah rawan’ oleh pemerintah Indonesia, karena merupakan basis pendukung pemberontakan DI TII-nya Daud Bereueh dan Hasan Tiro dengan GAM-nya (keduanya putra asli Pidie). Namun, banyak yang lupa bahwa sebenarnya masyarakat Pidie juga dikenal dengan warisan budaya turun-temurun yang sampai kini masih dianut kuat oleh masyarakatnya, yaitu semangat merantau.

Oral diskursus tentang merantau dalam masyarakat Pidie, pada dasarnya bukan hanya merupakan simbol independesi dan kedewasaan, akan tetapi juga dorongan untuk sukses, membangun jaringan berdakwah dan pengakuan akan eksistensi identitas (bagian penting dalam riwayat hidup). Oleh karena demikian kentalnya tradisi merantau di Pidie, banyak yang menyebut mereka dengan istilah ‘Cina Hitam’ (The Black Chinese). Ini barangkali merujuk kepada prestasi mereka yang dianggap menyamai prestasi kesuksesan ekonomi dan perdagangan bangsa Cina yang sebenarnya. Putera kelahiran Pidie dikenal luas sebagai orang yang sukses di perantauan, tidak hanya sebagai pedagang atau pengusaha maupun politisi yang mendapat kedudukan penting di birokrasi pemerintahan.

Mengapa Cina Hitam? Meskipun klaim Cina Hitam juga ditasbihkan ke warga Bugis di Sulawesi Selatan, tradisi migrasi di Pidie sudah dikenal sejak lama. Kendati sektor utama penggerak perekonomian Pidie adalah pertanian, namun ini bukan berarti pola pikir, semangat dan cara pandang mereka sangat tertutup dan terbelakang, sebagaimana lazimnya masyarakat agraris. Mereka bahkan berpikir lebih maju, visioner, dan bercita-cita tinggi atau outward looking (Haris 1997:117-118). Sikap berpangku tangan bukanlah ciri khas masyarakat di sana.

Bahkan sebaliknya, adalah pantang berpangku tangan duduk di rumah dan menganggur. Sudah lumrah jika seseorang telah dewasa (khususnya anak laki-laki) untuk merantau ke kota, baik mencari ilmu ataupun berdagang. Lalu, mengapa orang lebih familiar dengan sebutan Cina Hitam bagi orang Pidie? Bukan Minang atau Padangnya Aceh? Menurut keterangan Drs. H. Abdul Rahman Kaoy (Wakil Ketua Majelis Adat Aceh), spesialis dalam bidang adat, budaya dan dakwah, label Cina Hitam lebih mendunia bila dibandingkan dengan istilah Padangnya Aceh atau yang lainnya. Ini membuktikan visi orang Pidie yang memang berkeinginan untuk memperluas jaringan, tidak hanya di dalam level lokal di Aceh, namun juga secara regional di Pulau Sumatera, Indonesia dan bahkan internasional.

Kebiasaan merantau masyarakat Pidie kabarnya juga sama dengan kebiasaan masyarakat Bireuen. Masyarakat Pidie dikaitkan pula dengan urang awak di Padang – Sumatera Barat, karena merantau selalu diasosiasikan dengan berdagang. Alasan lain mengapa diindetikkan dengan bangsa Cina (dulu disebut Tionghoa) adalah karena mereka dikenal senang bermigrasi ke seluruh dunia dan akhirnya sukses dan mandiri secara ekonomi. Tibalah kemudian pada kesimpulan bahwa kegigihan orang Pidie itu sama dengan persistensi, dan kegigihan bangsa Cina. Lalu, budaya Cina yang beragama Budha juga hampir serupa dengan budaya masyarakat Pidie yang beragama Hindu (dari India) sebelum datangnya Islam.

Kebiasaan masyarakat Cina salah satunya adalah gemar menyabung ayam, kebiasaan yang juga dapat dijumpai di masyarakat Pidie. Sama halnya dengan adat peusijuek yang masih ada sampai sekarang juga disinyalir berasal dari budaya Hindu. Upacara tepung tawar bertujuan mendoakan keselamatan dan kesuksesan yang bersangkutan. Jika diperhatikan, ritual ini mirip dengan prosesi pernikahan orang India. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa orang Pidie itu rajin menabung bahkan cenderung pelit layaknya orang Cina karena ingin berinvestasi di masa depan. Sehingga kemudian berkembang istilah kriet lagee Pidie atau pelit seperti orang Pidie. Sedangkan kosakata itam (bahasa Aceh untuk hitam) yang dilekatkan setelah kata Cina lebih dikarenakan wajah dan postur fisik kebanyakan masyarakat Pidie mirip dengan perawakan orang keturunan India atau dulunya disebut dengan Hindustan di Asia Selatan.

 Di Pidie sendiri, menurut kesaksian Rosihan Anwar (1986: 30) ‘kebiasaan masyarakatnya mirip di India, dimana sapi berkeliaran dengan bebas di jalanan. Perawakan orangnya umumnya juga tampan, berhidung mancung, berkumis lebat dan berkulit hitam manis’. Kebanyakan masyarakat Pidie bermata sipit seperti Cina tapi berkulit hitam seperti Hindia. Perkawinan silang dua budaya bahkan termasuk percampuran ras inilah yang kemudian membuat masyarakat Pidie dipanggil dengan sebutan Cina Itam.

Dari filosofi ke praktek

Salah satu spirit yang memicu kesuksesan perantauan masyarakat Pidie adalah beberapa prinsip yang mereka anut, khususnya dalam dunia dagang. Falsafah inilah yang menjadi sumber inspirasi mereka. Dalam hal ini kabarnya orang Pidie menerapkan apa yang disebut politik dagang. Falsafah yang paling sering didengar adalah ‘modal siploh-dipeubloe sikureung, lam tiep-tiep rueung na laba’. Artinya, modal sepuluh-dijual sembilan, dalam setiap ruang (transaksi pembelian) ada keuntungan. Politik dagang semacam ini membuat para saingan dagang, seperti orang Bireuen dan Padang khawatir. Bahkan mereka ini kemudian mengeluhkan kebijakan tersebut.

Pada kenyataannya dengan menurunkan harga barang, mereka tetap bisa mendapatkan keuntungan. Sebuah strategi dagang yang cukup membuat mereka cepat sukses dimana saja. Selain itu pelayanannya bisa jadi berbeda dan spesial. Untuk membuka toko saja misalnya, pada hari pertama mereka menyediakan makanan khas Aceh atau tumpeng kuning. Selain itu bagi orang-orang non-Pidie di Aceh ada semacam anekdot yang berkembang bahwa kita disarankan berhati-hati dalam berteman dengan orang Pidie. Ini karena jika seseorang punya toko atau kedai, awalnya pada tahun-tahun pertama merantau, mereka hanya meminta berjualan dan membuka lapak di emperan depan toko. Kemudian setelah dua hingga lima tahun berlalu, maka orang Pidie itu yang akan menjadi pemilik toko (toke) dan kemudian malah sang pemilik toko yang dulu gantian berjualan di emperan toko yang dulu miliknya.

Kebanyakan orang Pidie yang merantau berprofesi sebagai pedagang baik kecil ataupun besar. Di kota-kota besar di luar Aceh, seperti di Medan, Jakarta atau Bandung para pedagang makanan khas mi Aceh berasal dari Pidie. Dalam keterangan lain disebutkan bahwa ada yang menjadi pedagang, pengembara, dan bahkan nasionalis – menjadi tokoh publik, orang penting atau politisi ulung (Graf, et.all 2010:162). Sehingga tidak mengherankan jika kebanyakan politisi asal Aceh yang duduk di kementerian adalah orang Pidie, kebanyakan anggota dewan DPR-MPR RI di Senayan termasuk mereka yang vokal juga dari Pidie. Ibrahim Hasan menteri zaman Soeharto, Hasballah MS Menteri Hukum-HAM zaman Gus Dur, dan kini Menteri BUMN, Mustafa Abu Bakar, kesemuanya orang Pidie.

Mr. Teuku Muhammmad Hasan salah seorang anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan RI juga orang Pidie. Pimpinan partai kharismatik seperti Tgk H.Ismail Hasan Meutareum di Partai Persatuan Pembangunan juga asal Pidie. Konglomerat terkenal yang kemudian menjadi pengusaha bonafid di Jakarta Indonesia adalah Ibrahim Risyad juga putra asli Reubee, Pidie. Dan ulama kondang di Aceh dan Indonesia juga ada yang berasal dari Kabupaten Pidie, sebut saja seperti Abdullah Ujong Rimba dan Tgk Panglima Polem.

Tidaklah aneh jika lalu sebutan ‘Cina Hitam’ melekat kuat dalam perjalanannya kemudian. Memang pernah ada sebutan ‘Minangnya Aceh’, tapi itu tidaklah populer. Label ini menjadi familiar karena dari aspek budaya dan fisik orang Pidie di Aceh adalah perpaduan dua lintas budaya ini. Mekanisme budaya (Widyawati 2008) tersebut kemudian terus berkembang sampai sekarang. Salah satu dasar filosofis konsep merantau bagi warga Pidie adalah keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik (Kell, 2010) dan semangat berdakwah (Hurgronje (1906 II:31).

Dalam konteks aplikatifnya budaya merantau ini lebih sering diasosiasikan dengan berdagang. Karena memang mereka dikenal sangat ulung, lihai dalam berdagang serta pintar dalam merebut hati pembeli. Namun sesungguhnya konsep merantau bagi masyarakat Pidie tidaklah melulu hanya mengembara demi status sosial ekonomi yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik di sini adalah juga dimaksud agar mereka sukses dalam dua hal, yaitu sukses dunia-akhirat, ke barat dan ke timur, sukses berdagang dan juga belajar menuntut ilmu.

Konsep ini kemudian diterjemahkan dalam dua bentuk: Pertama, Jak u barat (Pergi ke barat) atau menuntut ilmu agama dan belajar ilmu praktis keduniaan melalui dayah atau instititusi pendidikan dan Kedua, jak u timu (Pergi ke timur) atau berdagang. Merantau ini pada prakteknya kemudian juga tidak eksklusif bagi masyarakat biasa dan monopoli kaum lelaki (Melalatoa 1997), tapi juga berlaku bagi semua golongan masyarakat, termasuk kaum bangsawan dan juga kaum perempuan.

Sehingga merantaunya orang Pidie tidaklah semata demi alasan keuangan, tapi juga semangat untuk maju dan memperluas jaringan dan saudara. Meskipun sektor penggerak ekonomi utama adalah bertani, namun masyarakat Pidie punya visi hidup yang maju dan terbuka, tidak sebagaimana masyarakat agraris lain pada umumnya. Sehingga adat merantau warga Pidie di Aceh adalah sebuah khasanah yang perlu terus diwariskan dari generasi ke generasi.

 Saiful Akmal ;  Serambi News  Sun, Apr 10th 2011


Beasiswa Habibie Center

FOKUSGAMPI Banda Aceh     10/15/2015  No comments
Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM-IPTEK) didirikan oleh Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie (mantan presiden RI) pada tahun 1997. Badan pengurus yayasan ini diketuai oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan memiliki tujuan :
>  Mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan memiliki kualitas Iman dan Takwa yang tinggi.
>  Menguasai, mengembangkan dan mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi secara mandiri.
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, Yayasan melakukan kegiatan sebagai berikut:
>  Memberikan beasiswa untuk tingkat S3 (Doktor),
>  Memberikan penghargaan dan hadiah kepada orang atau Badan yang telah berjasa atau melakukan terobosan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Habibie Award).
>  Mengembangkan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).
>  Membentuk atau membantu berdirinya Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

BEASISWA S3
Beasiswa diberikan 2 (dua) kali setahun yaitu:
a. Periode bulan Mei
Formulir harus sampai di panitia paling lambat 21 April tahun berjalan.
b. Periode bulan Nopember
Formulir pendaftaran diajukan paling lambat tanggal 20 Oktober.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk beasiswa S3.
>  Usia maksimum 35 tahun.
>  Tidak menerima beasiswa dari lembaga atau sumber lainnya.
>  Sudah diterima atau telah mendapatkan surat keterangan diterima dalam program S3 di perguruan tinggi atau lembaga yang berada di Indonesia.
>  Selama mengikuti program S2, penerima beasiswa S3 harus mendapatkan nilai cum laude atau minimal berada pada peringkat ke-5.
>  Pendaftar harus menyerahkan dua rekomendasi dari tokoh ilmuwan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
>  Pendaftar harus menunjukkan sikap kepemimpinan dalam bidangnya dan memiliki tingkat integritas dan kreatifitas yang tinggi.

Proses pendaftaran dan seleksi
Pendaftar harus mengisi formulir pendaftaran secara lengkap disertai dengan dokumen penunjang. Pemilihan penerima beasiswa ditentukan dalam sidang dewan pakar yang telah ditentukan oleh Yayasan. Seleksi dilakukan berdasarkan 5 (lima) kelompok bidang ilmu yakni : 
1. Kelompok Ilmu Dasar, 
2. Kelompok Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi, 
3. Kelompok Ilmu Rekayasa, 
4. Kelompok Ilmu Sosial, Hukum, Ekonomi dan Politik, 
5. Kelompok Ilmu Filsafat, Agama dan Budaya.

Tunjangan
Beasiswa yang diberikan berupa:
>  biaya pendidikan (SPP) dan dana studi lainnya,
>  tunjangan tugas akhir,
>  tunjangan biaya buku/fotokopi,
>  tunjangan biaya hidup,
> tunjangan biaya transportasi dari daerah ke tempat kuliah (jika saat melamar ada di daerah di luar tempat belajar)


Untuk informasi lebih lanjut 

Rabu, 14 Oktober 2015

Fokusgampi Laksanakan FGD Kewirausahaan

FOKUSGAMPI Banda Aceh     10/14/2015  No comments
FGD Kewirausahaan Fokusgampi bersama Ketua IIBF
FGD Kewirausahaan Fokusgampi di Ruang VIP Dhapu Kupi Banda Aceh
Forum Komunikasi Generasi Muda Pidie (FOKUSGAMPI) Banda Aceh melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Kewirausahaan dengan tema “Menyongsong bangkitnya wirasusahawan Muslim di Aceh” bersama Putra Chamsah yaitu ketua Indonesia Islamic Bisnis Forum (IIBF) Aceh, yang dilaksanakan pada hari Selasa, 13 Oktober 2015 di Ruang VIP Dhapu Kupi Banda Aceh.

Ketua FOKUSGAMPI  Banda Aceh  Muhammad Ikhsan mengatakan, Focus Group Discussion ini kita lakukan sebagai diskusi terarah untuk memecahkan permasalahan terkait stategi, kendala, dan tantangan dari para pemuda Pidie yang ingin memulai kegiatan usaha yang berlandaskan ajaran Islam.

Ketua IIBF Aceh, Putra Chamsah mengatakan, orang yang sukses itu tidak hanya yang ber-IQ tinggi saja namun lebih pada EQ dan SQ ditambah kebermanfaatannya bagi orang banyak. Putra Chamsah menambahkan untuk memajukan sebuah daerah peran serta para pengusaha tidak boleh di kesampingkan dan sebagai seorang Muslim berwirausaha itu adalah penting karena kita mengambil tauladan dari Rasullullah yaitu sebagai pengusaha dan para sahabat-sahabat Rasulpun masyoritas adalah pengusaha.

Ketua FOKUSGAMPI Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan, Khalisni mengatakan :kegiatan FGD ini tidak hanya berkahir sampai disini saja namun diharapkan juga adanya kegiatan berupa mentoring bagi pemuda-pemuda yang berkeinginan memulai bisnis atau yang sudah memulai namun di hadapkan dengan berbagai hambatan yang ada. Dan, dalam waktu dekat ini FOKUSGAMPI akan melaksanakan kegiatan workshop kewirausahaan dengan skala besar dengan menghadirkan peserta yang lebih banyak dan instruktur yang handal di bidangnya. [DR]

Total Pengunjung

Hubungi Kami

FOKUSGAMPI BANDA ACEH Sekretariat: Jln. T. Hasan Dek Jambo Tape no. 282 Banda Aceh. fokusgampibandaaceh@yahoo.com